setelah turun lapang matakuliah sosped selama 3 hari (desember 2009)

“yang dapat saya katakan adalah, kebahagiaan tidak hanya dicapai dari materi yang berlimpah semata, banyak hal yang dapat menumbuhkan rasa bahagia walaupun dengan materi yang pas-pasan” :)

hanya ingin berbagi pengetahuan kepada pembaca,

dalam fotografi, banyak hal yang mempengaruhi sehingga  hasil pemotretan dapat terlihat bagus: diantaranya:

  • PencahayaanCahaya – termasuk white balance – harus sesuai dengan efek yang ingin ditimbulkan. Ada yang ingin menimbulkan kesan horror/ spooky, jadi tentunya cahaya juga dibuat remang-remang
  • KomposisiElemen-elemen dalam foto harus saling mendukung sehingga menimbulkan kesan yang sesuai dan membawa pesan yang ingin disampaikan
  • KejelasanBisa juga disebut kesederhanaan. Pemirsa dapat menangkap dengan jelas apa yang ingin disampaikan oleh fotografer. Caranya dengan menunjukkan yang mana POI (Pount of Interest) dan mana elemen pendukungnya.
  • KeunikanBanyak obyek yang pada dasarnya menarik dan sering diabadikan, misalnya monumen, bangunan, model yang cantik, atau landscape. Untuk itu, setiap fotografer harus bisa menemukan sesuatu yang unik agar berbeda dengan karya lainnya
  • CeritaJika yang diabadikan bukan obyek tunggal, harus jelas kisah yang ingin disampaikan melalui foto
  • MomenBanyak foto yang berharga sebetulnya tidak terlalu bagus dalam hal teknis, namun mengabadikan momen penting yang tak terulang. Misalnya foto tsunami atau WTC 9/11. Jadi penting bagi para fotografer untuk membawa kamera ke mana pun

semoga bermanfaat :D

Oleh:
FITRIA RAHMAWATI
I34080107

MATA KULIAH BERPIKIR DAN MENULIS ILMIAH
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

Menjadi Pembicara yang Baik Sebagai Upaya untuk Membangun Sebuah Komunikasi Efektif
Fitria Rahmawati
Abstrak
Komunikasi efektif sangat diperlukan agar penyampaian makna yang kita maksud sama dengan orang yang kita ajak bicara. Dengan terciptanya komunikasi efektif dapat meminimalisir terjadinya misscommunication serta perselisihan di antara individu dan kelompok yang sering terjadi saat ini. Menjadi seorang pembicara yang baik merupakan salah satu upaya untuk menciptakan suatu komunikasi efektif. Untuk itu maka seseorang diharuskan mengenal dan mengembangkan karakter yang ada dalam dirinya (intrapersonal), kemudian ia pun mencoba untuk mempelajari serta mengembangkan karakter orang lain yang akan ia ajak bicara (interpersonal). Setelah intrapersonal dan interpersonal dikembangkan maka kita mampu melakukan percakapan yang baik dengan orang lain dengan memperhatikan cara-cara berhasil dalam percakapan dan ciri-ciri yang dimiliki oleh pembicara yang baik.
key words: pembicara yang baik, karakter, komunikasi efektif, komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal

RINGKASAN
Menjadi Pembicara yang Baik Sebagai Upaya untuk Membangun Sebuah Komunikasi Efektif
Fitria Rahmawati
Komunikasi penting bagi manusia. Dengan komunikasi manusia dapat menyampaikan keinginannya kepada orang lain. Banyak masalah yang terjadi saat ini karena adanya gangguan komunikasi dapat memicu perselisihan di antara individu dan kelompok. Agar makna yang kita inginkan tersampaikan kepada orang yang kita tuju maka dibutuhkan perubahan dari diri sendiri agar menjadi pembicara yang baik. Jika ini tercapai maka komunikasi yang efektif dapat terwujudkan.
Tujuan penulisan makalah ini adalah merubah seseorang untuk menjadi pembicara yang baik dengan langkah-langkah perubahan diri. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan suatu perubahan peningkatan kecakapan komunikasi intrapersonal dan interpersonal serta cara-cara agar berhasil di setiap melakukan percakapan.
Langkah-langkah yang digunakan meliputi: (1) perubahan intrapersonal (kesadaran ini, change model, focus model, dan kekuatan persepsi), (2) perubahan interpersonal (sistem representasi, eyes accessing cues/petunjuk berdasarkan gerakan mata, dan strategi membangun hubungan keselarasan), (3) cara-cara berhasil di setiap percakapan serta ciri-ciri yang dimiliki pembicara yang baik.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga berkat karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Menjadi Pembicara yang Baik Sebagai Upaya untuk Membangun Sebuah Komunikasi Efektif”.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini. Dan tidak lupa juga penulis ucapkan terima kasih kepada asisten dosen pembimbing yang telah membimbing sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun kepada pembaca umumnya.

Bogor, 7 Januari 2010

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Manusia adalah mahluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri. Dengan begitu manusia membutuhkan orang lain. Manusia harus berinteraksi dengan manusia lain agar keinginannya dapat tersampaikan. Dalam interaksi tersebut maka manusia harus berkomunikasi dengan orang lain.
Menurut Hudoro Sameto (1996) komunikasi memegang peran sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan komunikasi , manusia bisa saling mengungkapkan keinginan dan perasaannya, bisa saling transfer teknologi, bisa saling tukar informasi dan dapat membangun peradaban. Melihat pentingnya komunikasi, sudah selayaknya bila komunikasi perlu diolah supaya pembicaraan menjadi terarah, benar, tepat, dan efektif.
Kalau kita amati dalam kehidupan sehari-hari, terlihat banyak sekali orang yang berbicara dengan tidak sistematis dan dengan bahasa yang kacau serta sukar ditangkap maknanya secara langsung. Bahkan beberapa orang cenderung berbelit-belit dalam menyampaikan pesan. Selain itu, masalah lain yang terjadi adalah dengan lawan bicara kita. Sering sekali terjadi miscommunication di antara kita dan lawan bicara karena adanya gangguan-gangguan; baik itu dari diri kita sendiri, saluran komunikasi, maupun dari penerima atau lawan bicara yang tidak dapat menerima pesan yang kita maksud. Kadang kita tidak mengetahui atau mengenal karakter orang yang kita ajak bicara. Oleh sebab itu, komunikasi efektif ini perlu diberdayakan oleh semua orang agar pesan yang tersampaikan dapat diterima dengan baik. Komunikasi yang efektif sangat diperlukan agar hubungan di antara individu dengan individu lainnya dapat terjalin dengan selaras.

I.2 Perumusan Masalah
Ada beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yang merupakan masalah utama yaitu:
1. Apa itu komunikasi efektif ?
2. Bagaimana cara meningkatkan kecakapan komunikasi terhadap diri sendiri (intrapersonal) ?
3. Bagaimana cara meningkatkan kecakapan komunikasi terhadap orang lain (interpersonal) ?
4. Bagaimana cara agar kita dapat berhasil melakukan percakapan dari awal hingga akhir?

I.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah agar semua individu dari berbagai kalangan dapat mengetahui apa arti dari komunikasi efektif itu sendiri , mengenal terlebih dahulu karakter yang ada di dalam dirinya (intra-personal) sebelum memulai berbicara dengan orang lain, mengetahui cara bagaimana berkomunikasi dengan orang lain (interpersonal), serta mengetahui cara agar kita dapat menyesuaikan diri baik itu tata bahasa, sikap tubuh serta nada bicara yang digunakan pada saat kita berbicara dengan seseorang agar kita berhasil melakukan percakapan dari awal hingga akhir.
I.4 Manfaat
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat membangun suatu komunikasi yang efektif sesama individu baik dengan orang yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal. Dapat menambah informasi mengenai komunikasi efektif serta sebagai bahan referensi.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Pengertian Komunikasi Efektif
Komunikasi efektif adalah proses komunikasi di mana makna pesan yang dikirim oleh sumber sama dengan makna dari pesan yang diterima oleh penerima. (Ida Yuhana, Ninuk Purnaningsih dan Siti Sugiah M, 2006, seperti dikutip oleh Berlo, 1960).
Hudoro Sameto (1996) mengemukakan bahwa berbicara efektif merupakan sarana penyampaian ide kepada orang atau khalayak secara lisan yang mudah dicerna dan dimengerti oleh pendengarnya.
Berlo (1960) menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan komunikasi efektif ditinjau dari:
1. Faktor Sumber-Encoder
Terdapat empat faktor yang ada pada sumber yang dapat meningkatkan ketepatan berkomunikasi, yaitu: keterampilan berkomunikasi, sikap mental, tingkat pengetahuan, posisi di dalam sistem sosial budaya.
2. Faktor Penerima-Decoder
Faktor yang terdapat pada penerima sama seperti yang terdapat pada sumber yaitu: keterampilan berkomunikasi, sikap mental, tingkat pengetahuan, posisi di dalam sistem sosial budaya.
3. Faktor Pesan
Faktor pesan meliputi: kode pesan (the message code), isi pesan (the message content), dan perlakuan terhadap pesan (the message treatment)

II.2 Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapersonal adalah suatu proses komunikasi di dalam diri seseorang di mana dia memberi makna terhadap semua stimuli yang diterimanya dari lingkungan. (Ida Yuhana, Ninuk Purnaningsih dan Siti Sugiah M, 2006).
“[…] mempelajari komunikasi intrapersonal berarti memahami proses yang terjadi dengan diri sendiri. Belajar untuk mengetahui diri kita sendiri adalah belajar bagaimana kita berpikir dan merasa serta belajar bagaimana kita mengamati, menginterpretasikan dan bereaksi terhadap lingkungan. Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat hidup tanpa bereaksi dengan orang lain. Salah satu dasar komunikasi adalah interaksi. Oleh karena itu pemahaman terhadap apa yang terjadi dengan diri sendiri menjadi penting karena merupakan dasar bagi proses komunikasi kita dengan orang lain” (Ida Yuhana, Ninuk Purnaningsih dan Siti Sugiah M, 2006)

II.2.1 Komponen-komponen yang harus dilatih dalam upaya peningkatan kecakapan komunikasi intrapersonal
1. Kesadaran Diri
Di dalam kesadaran diri terdapat 4 proses pembelajaran yang berlangsung yaitu: inkompetensi tanpa sadar (tidak menyadari ketidakmampuan), inkompetensi sadar (menyadari ketidakmampuan), kompetensi sadar (menyadari kemampuan), dan kompetensi tanpa sadar (tidak menyadari memiliki kemampuan). Pada proses ini, berawal dari seorang individu yang tidak menyadari kemampuan dan tidak mengetahui bahwa mereka sering menunjukkan perilaku negatif yang merintangi dari keselarasan komunikasi dengan orang lain kemudian menyadari ketidakmampuan mereka bahwa perilaku negatif menghalangi kita memperoleh reaksi positif dari lawan bicara kita sehingga kita sulit membangun hubungan keselarasan. Mereka pun mulai bertindak mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk melakukan hal yang mereka inginkan. Banyak orang lain tidak menyadari bahwa mereka dahulu terlalu banyak bicara. Mereka memutuskan untuk berusaha meningkatkan kemampuan mendengarkan orang lain. Kebiasaan timbul dari upaya mengulang-ulang keterampilan atau perilaku tertentu. Inilah tahap terakhir dari proses pembelajaran. Seseorang yang tadinya mendominasi pembicaraan sekarang dengan sukarela mendengarkan dengan sangat baik. Proses ini dapat dilihat pada Bagan Proses Pembelajaran Diri (lihat lampiran).
2. Change Model
Change model adalah langkah-langkah di mana kita bisa menerima perubahan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan. Ada enam langkah dalam mencapai hal tersebut yaitu; (a) Sadari: langkah pertama untuk berubah adalah menyadari bahwa tindakan itu salah. Lalu kesadaran ini akan membawa kita ke langkah berikutnya, (b) Buat keputusan: jika masalah berdampak serius tak ada yang lebih tepat selain bertindak dengan mengambil sebuah keputusan, (c) Belajar: pada tahap ini kita harus belajar mengontrol emosi dan penilaian kita untuk lebih memahami orang lain, (d) Berubah sedikit demi sedikit: langkah kecil keberhasilan tapi bertahap memudahkan kebiasaan baru itu menjadi otomatis. Penyebabnya, perubahan yang teradopsi dengan baik terekam di dalam otak bawah sadar kita, (e) Latihan: diperlukan latihan sesering mungkin agar kebiasaan lama tidak timbul, (f) Konsisten: tahap ini adalah yang paling penting karena yang paling menentukan apakah kita akan berubah secara permanen atau hanya sementara. Langkah-langkah ini dapat dilihat pada Bagan Change Model (lihat lampiran).
3. Focus Model
Fokus model berfungsi untuk menetapkan manakah yang harus kita pilih yang akan memengaruhi kehidupan kita. Terdapat dua proses dalam komponen ini yaitu generalisasi dan pemilahan. Generalisasi secara positif adalah proses memperoleh ciri-ciri beberapa peristiwa yang terjadi. Ini merupakan kemampuan mempelajari dan menyimpan data dalam otak secara sadar tanpa mengulangi data yang sama. Melalui proses ini kita mampu mempelajari ribuan potongan informasi dan menemukan ciri-ciri umumnya. Generalisasi secara negatif adalah proses belajar dan menyimpan konsep-konsep tetap sama, tapi pilihan pada jenis konsep yang dipelajari dan diserap bisa merugikan. Pemilahan secara positif adalah pemilahan yang baik memungkinkan kita berkonsentrasi membaca buku di tengah kebisingan, menyaring detail kurang baik di sebuah restoran dan memilih kesan baik yang bisa disajikan tiap porsi menu. Pemilahan secara negatif adalah kebiasaan berkomunikasi yaitu ketika berkomunikasi dengan orang lain, kita cenderung mengacuhkan pendapat lawan bicara dan berfokus pada pendapat sendiri.
4. Kekuatan Persepsi
Menurut Verdeber (1981) persepsi adalah proses memberikan makna terhadap informan yang diperoleh indera kita atau dapat dikatakan sebagai apa yang dikerjakan otak dengan informan yang diperolehnya.
Ida Yuhana, Ninuk Purnaningsih dan Siti Sugiah M (2006) mengemukakan tahapan persepsi ada tiga yaitu: (a) Seleksi: pada tahap ini, dari begitu banyaknya stimuli baik itu internal maupun eksternal yang terjadi di lingkungan sekitar, kita harus belajar memfokuskan perhatian kepada beberapa stimuli saja, (b) Pengorganisasian: setelah tahap menyeleksi, maka stimuli yang telah kita seleksi tersebut diorganisasi sedemikian rupa ke otak. Pada tahap pengorganisasian ini terdapat tiga prinsip yaitu: Figure/Ground atau Objek Pokok/Latar Belakang, Grouping atau pengelompokkan, dan Closure atau ketertutupan, (c) Interpretasi: setelah kita mengorganisasikan stimuli, kita akan memberikan interpretasi, menyimpulkan dengan memberi makna terhadap stimuli tersebut.
Persepsi bisa menjebak kita, karena kita melihat dunia ini melalui enam tahapan yaitu: pesan yang diterima, pesan yang disaring dan diberi makna berdasarkan nilai-nilai, kepercayaan dan latar belakang, pesan yang dievaluasi, penambahan emosi, mengikuti sikap tubuh berupa ekspresi wajah, gerak tubuh, kecepatan napas, dan reaksi. Karena proses tahapan-tahapan ini sangat cepat, persepsi negatif mudah mengantarkan kita pada kesimpulan keliru sehingga terjadilah komunikasi yang buruk. Kita dapat mengatasi persepsi negatif ketika sedang berkomunikasi dengan orang lain yaitu dengan melihat situasi dari sudut pandang kita, orang lain, dan sudut pandang netral.
II.3 Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal bisa diartikan sebagai proses menyampaikan pesan kepada seseorang. Dalam komunikasi ini kita mulai berinteraksi dengan orang lain.
II.3.1 Komponen-komponen yang harus dilatih daam upaya peningkatan kecakapan komunikasi interpersonal
1. Sistem Representasi
Kelima indera kita mengacu pada sistem representasi, pananaman, mengatur, menyimpan, dan menghubungkan kita dengan alat penyaring persepsi kita. Sistem ini terdiri dari lima subsistem: visual, auditori, olfaktori (penciuman), gustatori (pengecapan), dan kinestetik.
Tipe Visual cenderung bernapas pendek-pendek lewat dada, berbicara cepat, secepat mereka memvisualisasikan pengalaman mereka mengunakan gerakan tubuh. Mereka suka menyela pembicaraan orang lain; bergerak cepat, makan cepat, penuh energi, dan berbicara dengan nada tinggi. Berkomunikasi dengan tipe visual, kita harus memvisualisasikan keadaan—buat mereka melihat apa yang kita katakan. Tipe Auditori cenderung bernapas lewat diafragma. Mereka lebih suka mendengarkan daripada berbicara. Dan ketika berbicara, mereka menggunakan variasi warna suara. Kemampuan mendengarnya luar biasa tanpa kegemaran menyela. Tipe auditori banyak mendasarkan analisis teliti. Berkomunikasi dengan tipe ini yaitu dengan mengubah-ubah warna suara kita. Jelaskan situasinya dengan detail dan picu diskusi lebih lanjut dengan mengajukan pertanyaan. Tipe Kinestetik cenderung bernapas dalam dan tenang. Mereka lebih mengutamakan perasaan. Oleh karena itu, keputusan yang diambil banyak didasari oleh perasaan dan emosi. Berkomunikasi dengan tipe ini maka kita harus bisa membuat mereka “merasakan” apa yang kita katakan.

2. Eyes Accessing Cues (Petunjuk Berdasarkan Gerakan Mata)
Tipe Visual cenderung mengingat, menyusun jawaban dan tanpa fokus. Jika kita bertanya orang tipe visual pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya ada di ingatan mereka, kita bisa perhatikan mata mereka bergerak ke atas lalu ke kiri. Jika kita bertanya kepada mereka dan mereka tidak siap menjawabnya, perhatikan mata mereka bergerak ke atas lalu ke kanan. Ini dikarenakan upaya menyusun gambaran yang belum mereka miliki. Kita kadang menemukan beberapa orang yang tidak menggerakkan mata sama sekali. Sepertinya melihat kita tapi ternyata mereka menatap gambar-gambar dalam benak mereka dan berusaha menyusun dan mengingatnya kembali.
Tipe Auditori cenderung mengingat, menyusun, dan berdialog. Jika kepada tipe auditori kita ajukan pertanyaan yang mereka telah mempunyai jawabannya, perhatikan mata mereka bergerak ke kiri lalu lurus ke depan. Mereka mencari bunyi dan suara. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang mereka tidak dapat jawab langsung, tipe auditori akan menggerakan matanya lurus ke depan lalu bergerak ke kanan. Mereka sedang meyusun bunyi. Ketika berdialog, tipe auditori menggerakakan matanya ke bawah lalu ke kiri. Misalnya, ia sedang berpikir untuk berhenti dari pekerjaannya dan cara untuk melakukannya. Perhatikan matanya bergerak ke bawah lalu ke kiri.
Kinestetik Jika kita coba tanyakan kepada tipe kinestetik, “Apa yang Anda rasakan saat Anda jatuh cinta?” Matanya akan bergerak ke bawah lalu ke kanan saat berupaya mengingat perasaannya ketika itu terjadi. Dengan memperhatikan sistem representasi, predikat (pilihan kata), dan gerakan mata seseorang, kita bisa memahami caranya menstruktur informasi dalam otak mereka.
3. Strategi Membangun Hubungan Keselarasan
Ada tiga komponen dasar dalam membangun hubungan keselarasan kepada orang yang kita ajak bicara:
a. Matching (Menyesuaikan)
Menyesuaikan berarti mencocokkan aspek-aspek perilaku eksternal kita menyamai secara maksimal aspek-apek perilaku eksternal orang lain. Menyesuaikan bukanlah meniru.
b. Pacing (Melangkah)
Melangkah merupakan proses lanjutan menyesuaikan gerakan dan pola ucapan seseorang. Pada tahap ini kita harus tetap menyesuaikan gerakan tubuh dengan gerakan tubuh lawan bicara dan berbicara dengan pilihan kata dan frase mereka.
c. Leading (Memimpin)
Pada tahap ini saatnya kita membuat orang lain mengikuti sikap kita lisan ataupun nonlisan. Jika sikap seseorang berubah dan sesuai dengan sikap kita, berarti kita mempunyai keselarasan sadar yang tinggi.

II.4 Cara Berhasil Di Setiap Percakapan
Rosalie Maggio (2007) mengemukakan mengenai langkah-langkah apa yang perlu diketahui dalam melakukan pembicaraan, mulai dari memperkenalkan diri hingga ke bahasa tubuh sampai bagaimana mengakhiri sebuah pembicaraan dengan baik. Langkah-langkah tersebut meliputi:
1) Langkah pertama adalah memilih untuk pergi ke tempat di mana kita seharusnya ada. Hal tersebut memungkinkan kita untuk bersikap positif di mana pun tempat yang kita kehendaki.
2) Jangan meninggalkan rumah tanpa bahan bacaan. Dalam langkah ini memiliki bahan bacaan adalah penting karena akan membantu kita menghadapi hampir berbagai situasi.
3) Percaya diri. Ini akan membuat kita menjadi lawan bicara yang menyenangkan. Berharaplah agar disukai dan diterima. Anggap saja semua orang akan senang menerima kita.
4) Mengenali bahasa tubuh kita. Hal yang tidak menyenangkan dari seorang teman bicara adalah mudah teralihkannya perhatian. Jangan biarkan perhatian kita beralih dari satu orang ke orang lain. Abaikan segalanya kecuali orang yang sedang diajak bicara. Usahakan posisi kepala tetap tegak karena menunjukkan sikap yakin, terbuka, dan bisa menghadapi situasi. Jangan sekali-kali melihat jam tangan ketika sedang berbicara dengan seseorang karena hal tersebut seolah-olah kita menghitung apa yang mereka katakan dengan waktu yang kita punya.
5) Tersenyumlah.
6) Memperkenalkan diri terlebih dahulu jika dengan orang asing.
7) Berjabat tangan. Ketika kita berjabat tangan dengan seseorang, tatap matanya dan mengucapkan kalimat pembuka. 8) Kontak mata. Kontak mata yang baik adalah langsung tetapi tidak tajam. Sekali-kali alihkan pandangan dengan melihat bahu lawan bicara. Jangan melakukan kontak mata terus-menerus karena akan berakibat lawan bicara merasa tidak nyaman.
9) Dalam mengakhiri sebuah percakapan dengan elegan, nyaman, dan alami bisa dilakukan dengan alih-alih memotong percakapan kita sendiri. Misal “Produk kami baru saja diluncurkan ketika-Astaga, saya mestinya sudah ada di tempat lain sepuluh menit yang lalu. Maaf!”
10) Mengucapkan terima kasih pada saat berpisah membuat lawan bicara kita lebih dihargai.
Larry King dan Bill Gilbert (1995) mengemukakan mengenai delapan hal yang dimiliki pembicara terbaik yaitu:
1) Mereka memandang suatu hal dari sudut baru, mengambil titik pandang yang tak terduga pada subjek umum.
2) Mereka mempunyai cakrawala luas. Mereka memikirkan dan membicarakan isu-isu dan pengalaman luas dari kehidupan mereka sehari-hari.
3) Mereka antusias, menunjukkan minat besar pada apa yang mereka perbuat dalam kehidupan mereka dan pada apa yang kita katakan pada kesempatan itu.
4) Mereka tidak pernah membicarakan diri mereka sendiri.
5) Mereka sangat ingin tahu. Mereka bertanya “Mengapa?”. Mereka ingin lebih mengetahui tentang apa yang kita katakan.
6) Mereka memberi ketegasan. Mereka berusaha menempatkan diri pada posisi kita untuk memahami apa yang kita katakan.
7) Mereka mempunyai selera humor. Dan mereka tidak keberatan mengolok-olok diri sendiri. Konversasional terbaik sering mengisahkan pengalaman lucu mereka sendiri. 8) Mereka mempunyai gaya bicara mereka sendiri.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Suatu komunikasi yang efektif sangat diperlukan agar penyampaian makna yang kita maksud sama dengan orang yang kita ajak bicara. Hal tersebut meminimalisir terjadinya miscommunication yang selama ini sering terjadi di kalangan masyarakat. Dalam menciptakan komunikasi efektif itu sendiri, seseorang diharuskan mengenal karakter yang ada dalam dirinya (intrapersonal) seperti apa, setelah ia mengetahui maka mulailah untuk mengembangkannya dengan generalisasi dan pemilahan yang lebih positif. Kemudian ia pun mencoba untuk mempelajari karakter orang lain yang akan ia ajak bicara seperti apa (interpersonal) dengan melihat sistem representasi atau melalui pancaindera agar kita bisa mengimbang mereka. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suatu keadaan yang nyaman kepada orang yang diajak bicara. Setelah intrapersonal dan inter-personal dikembangkan maka mulailah untuk berbicara dengan seseorang dari mulai memperkenalkan diri sampai mengakhiri percakapan.
III.2 Saran
Diharapkan pemerintah dapat mengupayakan komunikasi efektif ini kepada masyarakat di berbagai kalangan. Karena satu-satunya cara agar kita dapat menyampaikan sesuatu yang kita inginkan terutama apresiasi dari masyarakat kepada pemerintah dengan berinteraksi yaitu berkomunikasi dan saling berbicara satu sama lain dan diharapkan tidak terjadi noise atau gangguan sehingga makna tersebut dapat tersampaikan dengan baik.
Di kalangan mahasiswa komunikasi efektif ini sangatlah penting dalam hal menukarkan informasi kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Mahasiswa adalah jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Jika semua mahasiswa telah berhasil menciptakan suatu komunikasi efektif maka diharapkan tidak akan terjadi provokatorisasi yang dapat menyebabkan perselisihan.
DAFTAR PUSTAKA
Elfiky Ibrahim. 2009. Terapi Komunikasi Efektif Dengan Metode Praktis Neuro- Linguistic Programming (NLP). Zubaedah, penerjemah. Jakarta: Hikmah (PT. Mizan Publika). Terjemahan dari: Neuro-Linguistic Programming “NLP” & Unlimited Communication Power.
King Larry, Gilbert Bill. 1995. Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja Rahasia-rahasia Komunikasi yang Baik. Prihminto W Marcus, penerjemah. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Terjemahan dari: How to Talk Anyone, Anytime, Anywhere.
Maggio Rosalie. 2007. Sukses Berbicara Dengan Siapa Saja Keterampilan Interpersonal Dasar untuk Sukses dalam Situasi Apa pun!. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sameto Hudoro. 1996. Kiat Sukses Mengolah Komunikasi (Berbicara Efektif di Depan Umum, Berpresentasi dengan Audio Visual secara Benar). Jakarta: Puspa Swara.
Yuhana Ida, Purnaningsih Ninuk, Sugiah M Siti. 2006. Bahan Kuliah Dasar-dasar Komunikasi. Tidak dipublikasikan. Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia. IPB. Bogor.